Selektif memilih referensi: Kiat-kiat menyaring informasi di dunia maya (1)

Selektif memilih referensi: Kiat-kiat menyaring informasi di dunia maya (1)

 

 

Perkembangan teknologi informasi dewasa ini telah memudahkan kita untuk mengakses informasi dan berbagi informasi. Khalayak ramai dapat dijangkau dengan cepat hanya dengan beberapa klik di internet dan penyebaran informasi semakin meluas dengan bantuan sosmed. Polemik pun menyebar dengan mudah, dan berita-berita bohong, tendensius, dan acap kali mengandung unsur hasutan dan pembodohan, bertujuan membentuk opini publik untuk kepentingan pihak-pihak tertentu, dengan mudah diteruskan dari satu orang ke orang-orang lain.

Jika kita tidak berhati-hati, kita akan dengan mudah termakan oleh berita-berita tersebut tanpa mencernanya terlebih dahulu, dan lebih parah lagi kita pun dengan mudah membagikannya secara meluas. Apabila dikemudian hari berita yang kita bagikan tersebut terbukti tidak benar, bukan hanya rasa percaya kawan-kawan sekeliling kita yang berkurang terhadap kita, akan tetapi secara spiritual kita juga mengalami kerugian oleh karena resiko amalankita ditransfer kepada orang yang kita ghibahi, atau dosa-dosa yangbersangkutan ditransfer kepada kita (ini menurut ajaran agama Islam).

Dalam menulis tugas makalah, paper, tesis maupun disertasi di dunia akademik, penggunaan referensi adalah hal mutlak. Di kelas-kelas bahasa maupun tuntunan penulisan ilmiah, kiat-kiat menyeleksi referensi kerap kali diajarkan. Kiat-kiat ini penting agar kita dapat memilih referensi yang valid sebagai pijakan yang kuat untuk mendesain, melaksanakan, dan menganalisa penelitian kita dan dalam membangun argumen kita. Setelah mengamati beranekaragam berita dan tulisan yang simpang-siur di dunia maya pada Pilpres yang lalu, saya jadi tergelitik untuk membagi sedikit kiat-kiat menyeleksi referensi tersebut dalam konteks menyaring informasi di dunia maya. Di sini saya mengambil contoh beberapa topik dari pilpres lalu yang kebetulan sebagian beritanya saya ikuti, dan juga dari peristiwa lain.

Pertama: Cek validitas sumber

Ada beberapa lapis validitas sumber yang perlu dicek ketika menyaring informasi di dunia maya. Pertama, cek validitas website. Website yang ketika Anda mengaksesnya menimbulkan peringatan virus atau malware perlu dipertanyakan. Cek pula siapa yang berada di balik website tersebut, apakah berupa media, institusi, kelompok, atau individu yang memiliki latar belakang yang jelas. Coba cek apakah ada bagian “Tentang Kami” yang dapat menjelaskan tujuan dan visi misi website tersebut, dan seringkali pula orang-orang yang berkontribusi di website tersebut.

Jika website itu membawa bendera agama atau sentimen agama, coba cek latar belakang agama pendiri dan kontributor di website tersebut, apa latar pendidikan agamanya, dan di mana dia telah menimba ilmu, apakah di universitas terkemuka ataukah lembaga yang tidak jelas asal-usulnya. Jika hal ini tidak dapat Anda telusuri, maka website tersebut, termasuk berita yang dimuat di dalamnya, patut dipertanyakan. Oleh karena itu, behati-hatilah terhadap website anonim atau tulisan-tulisan anonim di dunia maya, terutama yang suka membawa-bawa agama.

Bersambung…

Tulisan ini adalah bagian pertama dari empat bagian tulisan. Untuk membaca bagian-bagian lain, silakan klik tautan berikut ini:

Bagian Kedua: Verifikasi isi tulisan

Bagian Ketiga: Bedakan sentimen dari fakta

Bagian Keempat: Perhatikan obyektifitas berita dan bahasa yang digunakan

 

______________________________________________

Catatan Kaki: Bagian Pertama tulisan berseri ini rampung ditulis dan dibagikan pada tanggal 23 Desember 2014 pada platform yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *