Selektif memilih referensi: Kiat-kiat menyaring informasi di dunia maya (2)

Selektif memilih referensi: Kiat-kiat menyaring informasi di dunia maya (2)

Kedua: Verifikasi isi tulisan

Jika Anda membaca tulisan di dunia maya, verifikasilah isinya. Coba google topik berita, apakah ada website lain yang lebih kredibel yang memberitakan topik yang sama. Kalau tulisan yang Anda baca mengacu pada peristiwa tertentu atau sumber website lain, cek peristiwa atau sumber tersebut. Saya ambil contoh sebuah paragraf pada Pilpres lalu yang kira-kira berbunyi seperti ini (bukan kutipan):

“Media pendukung Capres X memberitakan bahwa tokoh masyarakat A mengakui bacaan Quran Capres X sangat bagus saat Capres X memimpin sholat sebagai Imam, padahal menurut tokoh masyarakat A kepada kami, sholat saat Capres X jadi imam adalah sholat Duhur, jadi tentunya bacaan tidak dikeraskan.Jadi bagaimana mungkin tokoh masyarakat A mendengar bacaan Capres X? Jadi jelasberita ini bohong dan disebarkan hanya untuk pencitraan”

Jika kita membaca berita hanya secara sekilas, kita mugkin berpikir, oh ya saya pernah dengar Capres X jadi imam sholat di depan tokoh masyarakat A. Saya juga pernah dengar bacaan Qurannya dipuji karena menjadi Imam sholat. Wah ternyata itu bohong ya? Wah keterlaluan sekali pencitraan Capres X ini!

Saya yang mengikuti runut berita tentang topik tersebut karena sedang berusaha mencari informasi untuk memutuskan siapa yang akan saya pilih, hanya bisa berdecak terheran-heran membaca narasi yang dicontohkan di atas. Saya menyadari peristiwa tersebut telah diberitakan secara simpang siur.

Apa yang sebenarnya terjadi? Jika kita merunut berita dan memverifikasidari sumber kredibel, inilah yang sebenarnya terjadi: Capres X dipersilahkanjadi Imam sholat di depan tokoh masyarakat A pada saat sholat Duhur, dansetelah sholat tokoh masyarakat A mengumumkan pada media bahwa tata cara sholatCapres X baik dan teratur, tata cara sholat lho ya, bukan bacaan Quran. Lalu mengapa ada berita soal bacaan Quran yang dipuji? Karena sesungguhnya pada kesempatan lain Capres X menjadi Imam sholat Maghrib di depan tokoh masyarakatB, kemudian setelah itu tokoh masyarakat B memuji bacaan Capres X.

Di sinilah pentingnya mengecek sumber berita. Sebab apabila tidak berhati-hati kita bisa mengambil kesimpulan yang keliru dan berburuk sangka pada orang lain, padahal kejadian yang sebenarnya tidak sesuai dengan prasangka kita. Sebenarnya hal ini juga tergantung pada media, agar tidak mencampur adukkan beritanya. Sebuah media memuat berita tokoh masyarakat A memuji bacaan Quran Capres X, boleh jadi karena mencampur adukkan narasumbernya. Hal inilah yang kemudian dikritisi pula oleh penulis lain pendukung capres yang berbeda, walaupun paragraf terkait kemudian ditarik oleh media yang bersangkutan.

Bersambung…

Tulisan ini adalah bagian kedua dari empat bagian tulisan. Untuk membaca bagian pertama, silakan klik tautan berikut ini:

Bagian Pertama: Cek validitas sumber

Bagian Ketiga: Bedaka sentimen dari fakta

Bagian Keempat: Perhatikan obyektifitas berita dan bahasa yang digunakan

 

______________________________________________

Catatan Kaki: Bagian Kedua tulisan berseri ini rampung ditulis dan dibagikan pada tanggal 24 Desember 2014 pada platform yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *