Selektif memilih referensi: Kiat-kiat menyaring informasi di dunia maya (3)

Selektif memilih referensi: Kiat-kiat menyaring informasi di dunia maya (3)

Ketiga: Bedakan sentimen dari fakta

Hal yang paling menarik yang pernah saya pelajari dalam menulis karya ilmiah adalah mengkritisi argumen yang dikemas oleh penulis pada referensi yang dikaji, dengan membedakan antara sentimen dari fakta yang dimuat oleh penulis. Sekali lagi saya akan mengambil contoh dari artikel yang dimuat di dunia maya pada Pilpres lalu, yang mencoba membandingkan taktik pencitraan kedua capres berikut ini.

Kutipan di bagian-bagian awal artikel tersebut berbunyi:

“…Meski dengan kegagalannya, kehidupan Capres Y, baik dari sisi didikan keluarga, lingkungan sosial, status pernikahannya (dulu), membuat dia dekat dan menjadi bagian dari kekuasaan. Maka wajar saja jika di rumahnya di [insert lokasi] , dia punya pendopo seperti layaknya keraton raja-raja Jawa. Dalam wawancara dengan [insert nama media], Capres Y bahkan disebut bisa melacak garis keturunannya sampai sultan-sultan Mataram, penguasa Jawa terakhir sebelum jatuh ke kekuasaan East India Company milik Belanda pada abad 18.

Maka, posisi presiden, atau ‘raja’, buat Capres Y bukanlah lompatan yang fantastis karena orang-orang yang dekat dengan dia (pernah) berada di posisi tersebut. Buat Capres Y, punya kuda-kuda berharga miliaran, punya pendopo,menjadi penguasa bukanlah ilusi atau fantasi akan kebesaran (grandeur) tapi sekadar memenuhi takdirnya…”

Dan kemudian pada artikel yang sama mengenai Capres yang satunya:

“Narasi ‘ndeso’ itu ia tegaskan lagi saat tampil kampanye di[insert lokasi]:’Saya itu enggak punya duit, ndeso, miskin koneksi pusat,’ kataCapres X….

….‘Ndeso’ tak muncul dari julukan media, tapi malah dari Capres X sendiri. …Dengan’ndeso’, dia berupaya tampil merendah sekaligus meninggikan dirinya, karena itulah caranya menjadi berbeda dengan para pesaing politik….

Tapi, ketika kita melihat harta kekayaan Capres X dan pendidikan serta pengalaman kerjanya, dia jauh dari sosok ‘ndeso’ dan sederhana. Dia bisa berkuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, salah satu universitas bergengsi di Indonesia. Ia pernah ke [insert lokasi] dan bekerja di [insert nama BUMN] sebelum kemudian memiliki CV sendiri yang membuat dan mengekspor mebel jati.

Harta kekayaan Capres X per 2010 saja tercatat [insert data mengenai kekayaan termasuk aset, kendaraaan, perusahaan,logam mulia, dan surat berharga bernilai total 1039, 94 miliar ditambah $9483]. Dengan semua perhitungan ini, sebenarnya Capres X adalah bagian dari kelas menengah kaya Indonesia yang kemunculannya beberapa tahun terakhir jadi sorotan media. Memang, hartanya tak berada di kelas yang sama dengan [insert Capres Y dan beberapa pengusaha kaya raya lain yang berkecimpung di dunia politik], tapi kelas ekonomi Capres X sebenarnya juga berada di atas rata-rata penduduk Indonesia.”

Artikel ini sebenarnya bermaksud membandingkan secara‘objektif’ mengenai strategi pencitraan kedua capres, namun kenyataannya artikel ini lebih banyak dibagikan, diteruskan, dan disukai oleh pendukung Capres Y di sosmed, dibanding pendukung Capres X. Mengapa demikian?

Apabila kita memperhatikan narasi yang digunakan, walaupun tidak eksplisit, tulisan ini lebih ‘lunak’ terhadap Capres Y, dan lebih‘kritis’ terhadap Capres X. Artikel ini hanya memaparkan latar belakang Capres Y, dan kemudian mengamini metode pencitraan Capres Y dengan kata-kata “Maka,posisi presiden, atau ‘raja’, buat Capres Y bukanlah lompatan yang fantastis karena orang-orang yang dekat dengan dia (pernah) berada di posisi tersebut…dst”. Kalimat ini membiarkan pembaca berasumsi bahwa Capres Y-lah yang layak menjadi presiden, walau sebetulnya bukan itu yang benar-benar dikatakan oleh artikel ini.Tidak ada sikap kritis sama sekali pada artikel ini terhadap metode pencitraan Capres Y di mana latar belakangnya yang dekat dengan kekuasaan disugesti oleh metode pencitraan tersebut membuat dia lebih layak mengampu puncak kekuasaan.

Sikap artikel ini berbeda terhadap Capres X, kritik terhadap metode pencitraan Capres X yang mengaku dirinya ‘ndeso’ segera dilancarkan dengan memaparkan jumlah kekayaan Capres X secara detil yang menurut artikel (secara implisit) bertentangan dengan citra ‘ndeso’ yang dibangun Capres X. Universitas tempat Capres X kuliah juga disebut sebagai universitas bergengsi Indonesia, tanpa menyebutkan bahwa universitas ini juga terkenal sebagai universitas ‘ndeso’, paling tidak pada jaman Capres X berkuliah di sana. Juga tidak ada kalimat yang membiarkan pembaca berasumsi bahwa Capres X layak jadi presiden, tidak seperti terhadap Capres Y di atas, apatah lagi kalimat yang mengamini metode pencitraan Capres X.

Nah, kembali pada kiat menyaring informasi di dunia maya, bagaimana membedakan sentimen dari fakta? Mari kita kupas paragraf-paragraf artikel yang dikutip di atas.

Fakta yang ada (dengan berasumsi fakta tersebut benar):

Capres Y keturunan keluarga kerajaan Mataram – fakta.

Capres Y kaya dan dekat dengan kekuasaan – fakta.

Capres X berlatar belakang kalangan rakyat jelata dan menyebut dirinya ‘ndeso’ – fakta.

Capres X memiliki sejumlah harta kekayaan yang menggolongkannya sebagai kelas menengah kaya – fakta.

Apakah fakta-fakta tersebut bisa dikemas dengan sentimen yang berbeda dari sentimen artikel yang dikutip di atas? Bisa.

Contohnya seperti ini.

“Kehidupan Capres Y, baik dari sisi didikan keluarga,lingkungan sosial, status pernikahannya (dulu), membuat dia dekat dan menjadi bagian dari kekuasaan. Di rumahnya di [insert lokasi] , dia punya pendopo seperti layaknya keraton raja-raja Jawa. Dalam wawancara dengan [insert nama media], Capres Y bahkan disebut bisa melacak garis keturunannya sampai sultan-sultan Mataram, penguasa Jawa terakhir sebelum jatuh ke kekuasaan EastIndia Company milik Belanda pada abad 18.

Tetapi, punya kuda-kuda berharga miliaran, punya pendopo, berada dekat dengan kekuasaan bukanlah jaminan bagi seseorang agar layak menjadi presiden. Mengait-ngaitkan silsilah keluarga, harta kekayaan, dan kedekatan dengan pengusa terdahulu dengan kelayakan menjadi pesiden nampak bagai ilusi atau fantasi akan kebesaran (grandeur), dan belum tentu menjadi takdirnya…”

Sedangkan untuk Capres X seperti ini.

“Capres X sering mencitrakan dirinya sebagai orang ‘ndeso’yang berlatar belakang rakyat jelata. Namun apabila ditelusuri harta kekayaannya, ternyata ia memiliki sejumlah kekayaan [insert data kekayaan] yang membuatnya tergolong kelas menengah kaya Indonesia. Hal ini dapat membangun citra bahwa orang ‘ndeso’ pun dapat meraih keleluasaan finansial melalui kerja keras. Dengan latar belakang ‘ndeso’nya dia mengerti betul apa yang dialami dan diderita masyarakat kelas bawah, namun demikian ia juga memiliki pengalaman bagaimana untuk bekerja keras menuju kelas ekonomi yang lebih baik, dan tidak dimanja oleh latar belakang silsilah keluarga dan kekayaan yang berlimpah untuk mengangkat derajatnya.”

Mungkin paragraf yang saya buat untuk Capres X ini agak berlebihan, tetapi inilah pengaruh sentimen, ia bisa berlaku sejauh itu sehingga fakta dapat dikemas sesuai opini yang ingin dibuat penulis.

Oleh karena itu, bersikap kritislah dalam membaca berita ataupun opini, bedakan yang mana fakta, yang mana sentimen, dan ambil kesimpulan Anda sendiri berdasarkan fakta-fakta yang disajikan -selama data itu valid-, bukan berdasarkan sentimen yang dinarasikan. Hindari terbawa arus penggiringan opini yang bermain dalam pilihan kata penulis.

Bersambung…

Tulisan ini adalah bagian ketiga dari empat bagian tulisan. Untuk membaca bagian-bagian lain silakan klik tautan berikut ini:

Bagian Pertama: Cek validitas sumber

Bagian Kedua: Verifikasi isi tulisan

Bagian Keempat: Perhatikan obyektifitas berita dan bahasa yang digunakan

 

____________________________________________

Catatan Kaki: Bagian Ketiga tulisan berseri ini rampung ditulis dan dibagikan pada tanggal 10 Januari 2015 pada platform yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *