Selektif memilih referensi: Kiat-kiat menyaring informasi di dunia maya (4)

Selektif memilih referensi: Kiat-kiat menyaring informasi di dunia maya (4)

 

Keempat: Perhatikan obyektifitas berita dan bahasa yang digunakan

Berita yang obyektif biasanya mencoba menyajikan kisah dari dua sisi. Contohnya adalah ulasan berita mengenai Man Haron Monis, penyandera di kafe Sidney, pada harian Sidney Morning Herald beberapa waktu lalu. Ulasan tersebut memaparkan apa yang dilakukan Monis di kafe Sidney, rekam jejak kriminalnya dan lain-lain, namun demikian di akhir berita dikemukakan pula sisi kemanusiaan dari Monis, bahwa ia pernah mendekam di penjara Australia sebelumnya dan ia disiksa tanpa perikemanusiaan dipenjara, dan oleh karena itulah dia tidak peduli dengan hidupnya sendiri begitu tahu akan masuk penjara lagi. Ulasan ini bukan membenarkan tindakan Monis atau membenarkan alasan-alasan mengapa ia sampai melakukan kejahatan yang dilakukannya, tetapi berita ini berusaha memberi ulasan yang berimbang mengenai Monis. Berita yang obyektif biasanya menyajikan beberapa sudut pandang, mungkin lebih berat pada satu sudut pandang, akan tetapi selalu ada sudut pandang penyeimbang dalam berita yang sama walaupun hanya satu atau dua paragraf.

Selain obyektifitas berita (jika itu berita, bukan opini), perhatikan pula bahasa yang digunakan pada tulisan yang dibaca. Apakah bahasanya santun dan terukur, atau apakah bahasanya penuh nada hasutan, tuduhan, dan kebencian. Kembali, bedakanlah antara fakta dan sentimen, terutama sentimen yang menggunakan kata-kata hasutan, tuduhan, dan kebencian. Bahasa hasutan dan kebencian tentulah memiliki tujuan tertentu untuk menjatuhkan orang atau pihak lain, dan jika demikian kita perlu bertanya-tanya ada apa dibalik itu. Apabila kita berulang kali membaca tulisan yang bernada hasutan, tuduhan,dan kebencian dan tidak merasa jengah bahkan cenderung membaca lagi dan lagi, cobalah tanyakan pada diri kita apakah secara tidak sadar hati kita memang cenderung pada narasi yang berbau hasutan, tuduhan dan kebencian dan apakah itu yang kita inginkan pada akhlak kita atau tidak. Bahasa yang santun dan terukur biasanya mencerminkan kredibilitas narasumber, sementara bahasa yang bernada menghasut, penuh tuduhan, dan menebarkan kebencian biasanya dilatarbelakangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu.

***

Demikianlah kiat-kiat menyaring informasi di dunia maya. Saya menyadari beberapa contoh yang dikemukakan dalam tulisan ini sedikit bias terhadap salah satu capres. Hal ini disebabkan keterbatasan saya dalam mengikuti semua berita yang berkaitan dengan Pilpres. Saya tidak heran jika ada artikel yang beredar di web yang jika dikritisi akan menggeser bias kepada capres yang lain. Tapi tulisan ini tidak bermaksud untuk membahas capres mana yang lebih baik. Tulisan ini bertujuan untuk memberi sedikit pedoman untuk menyaring informasi di dunia maya, agar kita lebih selektif memilih referensi dan tidak mudah terkecoh oleh tulisan-tulisan di web yang tidak bermutu dan tidak jelas asal-usulnya.

Jadi sebagai kesimpulan, ketika membaca tulisan di dunia maya, baik itu berita atau opini, gunakanlah jurus-jurus berikut: cek validitas sumber termasuk siapa penulis dan apa latar belakang website dan penulis; verifikasi isi tulisan dengan cara membandingkannya dengan sumber lain atau versi yang berbeda; bedakan sentimen dari fakta dan buat kesimpulan sendiri berdasarkan fakta-fakta yang disajikan dan bukan berdasarkan sentimen yang dimainkan; dan perhatikan obyektifitas berita dan kesantunan bahasa yang digunakan.

***

Sebagai catatan kaki, Pilpres yang baru lalu telah menyebabkan dua hal yang sangat mencolok, yaitu partisipasi dan polarisasi. Ketika kita dihadapkan pada hanya dua capres yang bertarung dalam Pilpres, kita menyadari tidak ada di antara keduanya yang sempurna, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kita ‘terpaksa’ dihadapkan pada dua pilihan yang sulit dan kita akhirnya memilih sesuai pertimbangan kita masing-masing, dengan sepenuhnya menyadari ataupun tidak menyadari, bahwa siapapun yang terpilih, kita akan harus berhadapan dengan ‘kekurangan’ yang melekat pada capres terpilih pada masa pemerintahannya dari waktu ke waktu. Oleh karena itu setelah Pilpres berlalu, ada baiknya kita meninggalkan polarisasi dan bila perlu meningkatkan partisipasi. Mendukung apabila kebijakannya baik dan mengkiritisi secara konstruktif apabila kebijakannya kurang baik. Dan juga mendoakan agar pemimpin-pemimpin kita, suka atau tidak suka, diberi petunjuk olehNya. Karena toh, kita berada di perahu yang sama.

Tulisan ini adalah bagian terakhir dari empat bagian tulisan. Untuk membaca bagian-bagian sebelumnya, silahkan klik tautan berikut ini:

Bagian pertama: Cek validitas sumber

Bagian Kedua: Verifikasi isi tulisan

Bagian Ketiga: Bedakan sentimen dari fakta

______________________________________________

Catatan Kaki: Bagian Keempat tulisan berseri ini rampung ditulis dan dibagikan pada tanggal 18 Januari 2015 pada platform yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *